Pentingnya Dukungan Kesehatan Mental Keluarga Dalam Merawat Lansia
Oleh : Mustikawati, S.Kep, Ners.
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Proses penuaan merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Lanjut usia (lansia) mengalami kemunduran fisik, sosial, dan psikologi secara bertahap dan mengakibatkan masalah kesehatan. Masalah psikologi yang sering dialami lansia salah satunya demensia (Azizah, 2011).
Produktivitas lansia menurun karena penyakit degenratif yang diderita dan dapat pula menyebabkan kecacatan (Prabasari, Juwita, & Maryuti, 2017). Activity Daily Living lansia banyak terganggu karena perubahan penurunan fungsi tubuh. Kemandirian terhadap aktivitas sehari-hari seperti makan, berpakaian dan eliminasi pada akhirnya banyak membutuhkan bantuan dari care giver (Kiik, Sahar, & Permatasari, 2018). Banyaknya perubahan yang terjadi pada lansia menyebabkan beban tersendiri untuk care giver dan hal tersebut dirasakan berat oleh seluruh anggota keluarga yang dapat menyebabkan konflik dalam keluarga.
Secara individu, pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah baik secara fisik–biologis, mental maupun sosial ekonomi. Semakin tua umur sesorang maka akan semakin banyak penurunan fisik yang terjadi. Kondisi tersebut juga menurunkan fungsi sosial pada lansia. ketergantungan pada orang lain terutama pada keluarga menjadi sangat tinggi. Keluarga memegang peran penting agar tidak menambah masalah psikososial untuk lansia yang dapat menyebabkan depresi (Sriwidyastuti & Rosmaharani, 2020).
Peran keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Peran keluarga disebut juga tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seseorang dalam konteks keluarga. Sehingga peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.
Peran penting keluarga bagi lansia secara informal adalah sebagai educator, motivator, dan fasilitator terutama untuk kegiatan sehari-harinya (Luthfa, 2018). Keluarga harus dapat memberikan informasi terkait status kesehatan lansia yang sedang dirawat dan memberikan motivasi serta semangat agar lansia dapat menjalani sisa hidupnya dengan berkualitas. Keluarga diharapkan juga dapat memenuhi kebutuhan hidup lansia sehari-hari dan membantu dalam keterbatasan aktivitasnya (Wulandari, 2014). Fungsi keluarga yang juga tidak kalah penting adalah memberikan perawatan secara optimal pada lansia yang sedang sakit atau ketegantungan dalam aktivitas kesehariannya (Kim, 2011). Hal inilah yang dapat mengakibatkan stressor tersendiri bagi keluarga khususnya care giver.
Beragam penelitian telah mengeksplorasi terkait pengalaman keluarga dalam perawatan lansia. Keluarga yang merawat lansia dengan ketergantungan mengalami dampak fisik, emosi, sosial dan ekonomi (Prabasari et al., 2017). Keluarga yang merawat lansia dengan penyakit kronis di Taiwan mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh lansia dan keluarganya yaitu masalah fisik, psikis dan interaksi sosial. Pada penelitian tentang pengalaman keluarga merawat anggota keluarga pasca stroke di rumah, di Kota Depok mengungkapkan bahwa sebagian anggota keluarga merasa capek, jenuh dan merasa terbebani karena harus menjalankan rutinitas jangka panjang. Perawatan lansia juga membuat munculnya variasi perasaan antara bahagia dan sedih. Bahagia karena keluarga mampu merawat sebagai bentuk rasa sayang, hormat dan kepatuhan pada orang tua. Namun disisi lain juga adanya beban fisik, psikologis, ekonomi dan beban sosial pada caregiver (Luthfa, 2018).
Lansia yang mengalami ketergantungan akan lebih membutuhkan perhatian yang lebih baik dari segi tenaga, waktu dan biaya (Wiyono, Sahar, & Wiarsih, 2008) Timbulnya persepsi dan keyakinan merawat lansia adalah tugas dan tanggung jawab seorang anak, meskipun terkadang merasa lelah fisik dan psikis. Perawatan lansia di rumah dapat menimbulkan beban tersendiri untuk care giver baik dari ekternal maupun internal. Beban eksternal dapat muncul dari pekerjaan lain yang harus dilakukan oleh care giver dan tingkah laku lansia yang dirawat. Beban internal salah satunya adalah beban secara fisik dan psikologis atau perasaan emosional (Muazzam Nasrullah, 2016). Keluarga dapat juga berperan ganda dan tidak menutup kemungkinan saat itu juga memiliki anggota keluarga lain yang memerlukan perawatan lainnya atau mungkin juga memiliki pasangan yang kurang memberikan dukungan kepada care giver dalam merawat lansia. Caregiver merasa sangat terbantu jika ada pembagian beban dalam keluarga dalam merawat lansia. lansia dapat mendapatkan kualitas hidup yang baik jika keluarga dapat berperan ecara optimal dalam perawatan lansia. Keluarga secara bersama-sama harus dapat saling bekerjasama agar saat muncul masalah yang dihadapi oleh caregiver dapat ditangani dan dikelola dengan baik, sehingga berdampak baik secara fisik dan psikis (Prabasari et al., 2017).
KESIMPULAN DAN SARAN
Keluarga berusaha melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk tanggung jawab keluarga yang disandang. Beban yang yang dirasakan berat namun keluarga tetap mengupayakan perawatan terbaik untuk anggota keluarga yang sakit. Rekomendasi untuk pelayanan kesehatan diharapkan dapat memperhatikan terkait koping keluarga agar tidak menimbulkan masalah psikososial dalam keluarga. Sehingga keluarga dapat memberikan perawatan yang optimal kepada lansia dan para lansia tidak terlantar dan berakhir dipanti sosial.
Daftar pustaka :
Family Experience (Care Giver) in Care of The Elderly Dependence on Daily Living Activity, Iswanto Karso, Shanti Rosmaharani
Hubungan Peran Keluarga Dalam Merawat Lansia Dengan Tingkat Depresi Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Kumun , Azma Ulia
Beban Dan Koping Caregiver Lansia Demensia Di Panti Wredha, Rita Hadi Widiastuti1, Anissa Ika setyowati Setyowati2, Dika Ekivalent Setianingrum3
